<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>buku</title>
	<atom:link href="http://bukusumeks.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bukusumeks.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Oct 2008 12:10:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bukusumeks.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>buku</title>
		<link>http://bukusumeks.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bukusumeks.wordpress.com/osd.xml" title="buku" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bukusumeks.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Raffles Terpesona Jawa</title>
		<link>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/10/31/ketika-raffles-terpesona-jawa/</link>
		<comments>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/10/31/ketika-raffles-terpesona-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 12:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teje21</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Raffles Terpesona Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukusumeks.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Raffles Terpesona Jawa Judul    Buku            : The History of Java Penulis              : Thomas Stamford Raffles Penerjemah                  : Eko Prasetyaningrum, dkk Penerbit                        :  Narasi, Yogyakarta Cetakan                       :  Pertama, 2008 Tebal                            :  xxxvi  + 904 halaman Terbit pertama kali pada tahun 1817, buku ini pantas disebut sebagai salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=12&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#333399;"><strong><span style="font-size:12pt;">Ketika Raffles Terpesona Jawa</span></strong></span><strong><span style="font-size:12pt;"></span></strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Judul    Buku            : The History of Java</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Penulis              : Thomas Stamford Raffles</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Penerjemah                  : Eko Prasetyaningrum, dkk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Penerbit                        :  Narasi, Yogyakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Cetakan                       :  Pertama, 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Tebal                            :  xxxvi  + 904 halaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><a href="http://bukusumeks.files.wordpress.com/2008/10/cover-raflestiff.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-13" title="cover-raflestiff" src="http://bukusumeks.files.wordpress.com/2008/10/cover-raflestiff.jpg?w=450" alt="" /></a>Terbit pertama kali pada tahun 1817, buku ini pantas disebut sebagai salah satu mahakarya abad ke-19. Penulisnya Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826) sudah sangat terkenal. Dialah Letnan Gubernur Inggris di Indonesia pada 1811-1816. Pada 1965, Oxford University Press di Inggris menerbitkannya kembali dalam dua jilid, kemudian lagi pada 1978. Beberapa perpustakaan universitas di Indonesia menyimpan buku ini. Tetapi dari pengamatan, buku yang masuk di bagian referensi ini tampaknya jarang sekali disentuh. Mungkin karena berbahasa Inggris.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;">Oleh karena itu, apresiasi yang tinggi pantas diberikan kepada penerbit yang menerjemahkan dan menerbitkan buku sangat penting ini. Ada yang agak janggal memang. Satu di antaranya, yang muncul di internet: ’’Tak terbayangkan karya sepenting ini butuh waktu hampir 200 tahun untuk diterjemahkan, dan bukan oleh (penerbit) major label (pula).’’</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ketika baru terbit pada 1817, seorang pengkritik mengatakan, penulisan<em> The History of Sumatra</em> (1811) karya William Marsden lebih bagus dibanding buku ini. Mungkin ada benarnya. Para pembaca masa kini bisa membandingkan keduanya, karena karya Marsden juga telah diterbitkan tahun ini oleh Penerbit Komunitas Bambu. Tetapi, jelas, karya Raffles jauh lebih kaya sumber-sumbernya. Ia terjun langsung berbulan-bulan di berbagai daerah di Jawa dan Bali, sementara Marsden lebih bergantung pada referensi-referensi Portugis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Sebagai mahakarya, buku ini memang sangat kaya informasi. Oleh karena itu, sebenarnya terlalu naif rasanya mencoba menjelaskan isi buku hampir 1.000 halaman ini hanya dalam kolom pendek di koran ini. Inilah ’’buku babon Jawa’’ yang  luar biasa, yang merangkai semua hal tentang Jawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Dilengkapi gambar-gambar sketsa, Raffles yang terpesona eksotisme Jawa melukiskan beragam sudut kehidupan masyarakat Jawa di masanya. Tentang sejarah Jawa, ciri dan karakter orang Jawa, kebiasaan-kebiasaannya, agama, bahasa, seni, budaya, dan sebagainya. Dengan bantuan berbagai pihak, Raffles menerjemahkan beragam sumber seperti naskah Bharatayuda dan Babad Tanah Jawa.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mengawali bukunya yang terdiri 11 bab, Raffles memaparkan situasi geografi Pulau Jawa, lengkap dengan kota pelabuhan, gunung, sungai, danau, iklim, mineral, sayur-sayuran hingga binatang. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Raffles mengatakan, entah dari apa nama ’’Jawa&#8217;’ berasal. Tidak jelas. Ada yang menyebut nama itu berasal dari kata ’’Jawa-wut’’, suatu jenis padi-padian, yang mungkin menjadi bahan pangan pokok pada masa awal. Pada masa sebelumnya, ada juga istilah lain yakni <em>Nusa hara-hara</em> atau <em>Nusa kendang.</em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Raffles mengungkapkan kekaguman atas suburnya sebagian besar tanah di Jawa. Ia menyatakan, hal itu mungkin karena banyak gunung di pulau ini. Berbagai tumbuhan dan hasil pertaniannya sangat beragam. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Bagaimana orang-orang Jawa menurut pandangan Raffles? Ia mengatakan, wajah kaum wanita tidaklah begitu bagus seperti kaum laki-laki Jawa. Dan, di mata orang-orang Eropa, banyak wanita yang ’’buruk’’ wajahnya, khususnya setelah usia tua. Tetapi dikatakan, itu semua tampaknya wanita Jawa yang bekerja berat.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Berbeda dengan penguasa Belanda, sikap Raffles cenderung positif dalam menilai orang-orang Jawa. Raffles menilai orang-orang Jawa sebagai ’’orang-orang yang mudah bergaul dan sopan, penuh hormat dan bahkan cenderung malu-malu, tidak pernah kasar, tapi mereka lamban dalam gerak.’’ </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Laki-laki Jawa umumnya mempunyai seorang istri. Tetapi banyak pejabat seperti lurah memiliki istri lebih dari satu. Para bupati biasa mempunyai tiga atau empat istri, sementara para raja bisa 8 hingga 10. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tentang orang-orang asing yang tinggal di Jawa, Raffles mengatakan yang paling banyak adalah orang China (Tionghoa). Pada awal 1800-an, jumlah orang Tionghoa ada sekitar 100.000 orang, kebanyakan tinggal di Batavia, Semarang dan Surabaya. Sebagian kecil lainnya tinggal di kota-kota kecil.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Struktur Sederhana</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Di dalam bab IV, Raffles menjelaskan tentang pembuatan barang-barang hasil kerajian tangan, seperti tikar, pakaian, barang-barang ukiran, dan sebagainya. Letnan gubernur itu menggarisbawahi bahwa struktur masyarakat Jawa sederhana dan keinginan masyarakatnya tidak banyak. Akumulasi modal pun tidak ada, dan pembagian profesi tidak banyak. Oleh karena itu, katanya, perusahaan manufaktur tidak dapat diharapkan bisa didorong dalam batas tertentu.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Meskipun begitu, bahasa masyarakat Jawa waktu itu telah memiliki kata untuk menyebut sebagian besar jenis pekerja tangan. Contohnya, pandi (pande), tukang kayu, tukang werongko, tukang deluwang, dan tukang sulam.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dalam usahanya menunjukkan para tukang itu, Raffles menyertakan pula gambar-gambar berbagai peralatannya. Ia tunjukkan, misalnya, gambar pacul, gergaji, sabit, linggis, dan alat tenun. Ia juga menurunkan contoh keris dan jenis-jenisnya secara lengkap.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Buku ini juga kaya informasi tentang sejarah raja-raja Jawa, lengkap dengan bumbu-bumbu intrik dan liku-liku kekuasaannya. Ada pelukisan rinci, misalnya, bagaimana Raja Mataram, Amangkurat I, menghukum mati Trunojoyo secara sadis disaksikan para pejabat kerajaan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sayang sekali, buku terjemahan karya Raffles ini menghilangkan tulisan pengantar Prof John Bastin, guru besar sejarah di School of Oriental and African History, University of London. Sebagai gantinya, disertakan pengantar yang ditulis Drs Syafruddin Azhar, redaktur Tabloid Mingguan PERLE. Cukup bagus memang, tetapi dalam tulisan Prof Bastin terdapat banyak penjelasan yang penting, antara lain bagaimana proses buku Raffles itu disusun.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sebagai penulis, Raffles adalah pribadi yang tekun. Ia menulis hingga malam hari, sebagian besar di Cisarua, setelah berbulan-bulan berkeliling Jawa. Di sela-sela tugasnya, tentu saja. Meskipun kecewa karena dicopot, ia pulang dengan semangat tinggi untuk menulis bukunya. Ada penjelasan, siapa saja orang-orang yang membantunya mengumpulkan bahan dan menulis. Tak kurang 30 ton bagasinya yang dibawa pulang ke London. Berbulan-bulan barangnya ditahan aparat pabean. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tak percuma memang perjuangan Raffles. Mahakaryanya abadi di dalam jutaan sanubari. (*)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">*) <strong>Djoko Pitono</strong>, Jurnalis dan Editor Buku.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukusumeks.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukusumeks.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukusumeks.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukusumeks.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukusumeks.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukusumeks.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukusumeks.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukusumeks.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukusumeks.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukusumeks.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukusumeks.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukusumeks.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukusumeks.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukusumeks.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=12&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/10/31/ketika-raffles-terpesona-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f5f8962012a58c9e9c0f5b23dd70f74?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">teje21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bukusumeks.files.wordpress.com/2008/10/cover-raflestiff.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover-raflestiff</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fenomena Buku Laris: Unpredictable</title>
		<link>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/fenomena-buku-laris-unpredictable/</link>
		<comments>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/fenomena-buku-laris-unpredictable/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 16:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teje21</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukusumeks.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena Buku Laris: Unpredictable Oleh: Nurhayat Arif Permana Fenomena munculnya buku-buku best seller selalu memberikan dampak, baik secara langsung maupun tidak. Dalam perjalanan peradaban sebuah bangsa, beberapa buku fiksi semisal novel akan berpengaruh sangat kuat terhadap perkembangan sosial budaya dan bahkan politik. Kita tentu masih ingat bagaimana seorang Boris Pasternak harus dikejar-kejar rejim pemerintahan Presiden Sovyet [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=10&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a title=" Unpredictable" rel="bookmark" href="http://teje21.wordpress.com/buku-tamu/fenomena-buku-laris-unpredictable/">Fenomena Buku Laris: Unpredictable</a></h2>
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<h1></h1>
<p class="MsoNormal">Oleh: Nurhayat Arif Permana</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<h1><a href="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/buku.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-163" src="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/buku.jpg?w=135&amp;h=180" alt="" width="135" height="180" /></a></h1>
<p class="MsoNormal"><strong>Fenomena</strong> munculnya buku-buku <em>best seller</em> selalu memberikan dampak, baik secara langsung maupun tidak. Dalam perjalanan peradaban sebuah bangsa, beberapa buku fiksi semisal novel akan berpengaruh sangat kuat terhadap perkembangan sosial budaya dan bahkan politik. Kita tentu masih ingat bagaimana seorang Boris Pasternak harus dikejar-kejar rejim pemerintahan Presiden Sovyet Kruschev hingga akhir hidupnya, karena novelnya Dr. Zivago habis-habisan mengecam kelakuan rejim. Penerima nobel sastra ini akhirnya tak bisa kembali ke negaranya.</p>
<p class="MsoNormal">——————————————–</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Kita juga akhirnya paham mengapa novel-novel Pramudya Ananta Toer juga akhirnya dibredrel rejim orde baru karena dianggap “menghina dan merongrong kekuasaan”. Padahal sampai saat ini tak satu pun dari novel-novel itu<span> </span>yang bercerita tentang sebuah pemerintahan yang bobrok. Pram yang dianggap penganut liberalisme sosialis toh pada akhirnya mengatakan bahwa dia sekadar menceritakan peristiwa sejarah sebuah bangsa bernama Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal">Hakikatnya sebuah buku ditulis memang bertujuan untuk memberikan kesaksian hingga memberikan inspirasi banyak orang bagaimana menyikapi sebuah persoalan. Bahkan sebuah buku tentang masakan (kuliner) atau ramalan akan menjadi perbincangan banyak orang. Bondan Winarno, yang dulu beberapa kali memenangkan lomba penulisan cerita pendek dan juga telah dibukukan, akhirnya menempuh membuat milis jalan sutera dan menjadi fenomenal setelah dia menjadi presenter acara kuliner di televisi.</p>
<p class="MsoNormal">Kita sering tak dapat menduga kapan suatu hal bisa menjadi <em>trend setter</em>, apalagi di Indonesia yang tingkat membaca masyarakatnya sangat minus. Sewaktu JK Rowling menuliskan tokoh Harry Potter, tak seorang pun dapat mengira bahwa buku tentang seorang anak yang bersekolah sihir dapat menyihir jutaan anak di dunia menjadi tergila-gila dengan sang tokoh. Kalau kemudian buku itu ditulis sampai lebih dari lima sekuel, hal itu semata-mata “permintaan” pasar pembaca. Dan Anda tahu sendiri efeknya, Rowling menjadi manusia terkaya di dunia.</p>
<p class="MsoNormal">Tak seorang pun sebenarnya mampu menganalisa dan menerawang kemauan pasar, termasuk pasar buku. Jika Harry Potter ternyata mampu menembus jutaan copy, bagi Rowling itu semata <em>blessing in disguise</em>, karena Tuhan telah memberikan kebaikanNya karena kecintaan dan bakti Rowling yang amat besar kepada putrinya.</p>
<p class="MsoNormal">Dan tak kalah dashyatnya pula apa yang ditulis Dan Brown, <em>Da Vinci Code</em>. Novel yang mengungkap misteri seniman jenius serbabisa, Leonardo da Vinci ini benar-benar mengguncang dunia. Dan Brown, yang sebelumnya telah menulis <em>Devil and Angel</em> disusul<span> </span><em>Digital Fortress</em>, tiba-tiba menjadi penulis moncer yang dianggap jenius. Padahal jika dilihat dari gagasan dan isi bukunya, Brown hanya mengalihpindahkan buku serupa yang ditulis<span> </span>Michael Baigent, Richard Leigh dan Henry Lincoln <em>Holy Blood, Holy Grail</em>. Karena buku Brown ini, serbuan buku sejenis memenuhi rak-rak toko buku dengan kualitas yang payah. Saya termasuk orang yang menyumpah-nyumpah ketika membaca <em>Michaelangelo’s Secret</em> karangan Paul Christopher. Betapa tidak, tadinya saya berharap buku itu akan mengungkap sisi kelam pematung terbesar abad pertengahan itu—yang hidup semasa dan berseteru dengan Michaelangelo di Florence, Perancis–ternyata saya terkecoh. Buku itu—maaf—bagi saya adalah sampah. Padahal menurut saya banyak hal dalam hidup Michaelangelo yang belum terungkap, termasuk mengapa akhirnya dia membuat <em>Pieta</em>, karya patungnya yang menurut saya telah mencapai seni patung tertinggi dalam sejarah perpatungan di dunia (tanpa mengenyangpingkan <em>The Thinker</em>nya Auguste Rodin). Cerita buku berjudul asli <em>Michelangelo’s Notebook </em>ini sebetulnya menarik. Paul Christopher mencoba menghadirkan kisah menegangkan tentang konspirasi mematikan yang terkait dengan Nazi, Vatikan, dan rahasia Michelangelo. Banyak pujian diberikan kepada Paul Christopher tentang buku ini, tetapi entah mengapa—kemungkinan soal terjemahan—saya benar-benar menjadi tak bergairah.</p>
<p class="MsoNormal">Buku-buku laris semacam ini punya banyak sisi pandang, tergantung bagaimana pembaca mulai menilainya.<span> </span>Judul-judul buku yang saya sebutkan di atas—dan masih ada ratusan—kebanyakan buku bergenre thriller. Bagi para pencinta fiksi, kegilaan terhadap Agatha Christie misalnya, kadangkala tak masuk akal. Sekadar informasi, di salah satu situs penjualan buku, saat ini sedikitnya ada 120 buku berjenis thriller yang laris manis.</p>
<p class="MsoNormal">Pemain di bisnis buku menangkap peluang besar di sini. Penerbit, khususnya, kini bertaburan. Apalagi dengan perkembangan desain grafis saat ini, pembaca disuguhkan oleh hal yang ajaib. Bahwa buku, dengan harga yang makin melambung, ternyata tak hanya dinilai dari konten saja. Makanya ungkapan ril tentang <em>don’t judge the book by it’s cover</em> di dalam bisnis perbukuan tidak berlaku.</p>
<p class="MsoNormal">Apalagi dengan teknologi informasi yang semakin semarak dan menyempurna. Bagi toko buku yang punya display terbatas, telah diberikan alternatif dengan hadirnya situs-situs penjualan buku. Situs yang termasuk popular misalnya: <a href="http://www.inibuku.com/">www.inibuku.com</a>, <a href="http://www.bukukita.com/">www.bukukita.com</a>, atau <a href="http://www.bukularis.com/">www.bukularis.com</a>.<span> </span>Anda tinggal pesan via rekening atau kartu kredit, seminggu kemudian buku tersebut sudah ada di rumah Anda. Saya termasuk salah seorang yang sering memanfaatkan jasa ini.</p>
<p><span> </span>***<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana di Indonesia saat ini? Saya menilai, banyak novel-novel bagus yang memenuhi pasar dan menjadi fenomenal. Ayu Utami telah memulai sesuatu yang bagus ketika menulis Saman, sebagai satu dari trilogi <em>Laila tak Mampir di New York</em>. Buku itu dipuja-puji di sana sini, Ayu dianggap penulis berbakat besar. Tetapi ketika sekuel keduanya, <em>Larung</em> terbit, kelihatan Ayu kedodoran. Sampai saat ini Ayu tak jua memenuhi janjinya untuk menulis sekuel ketiga karena <em>Larung</em> ternyata tak memenuhi harapan pembaca. Fenomena penulis perempuan akhirnya dilanjutkan Dewi Lestari yang memulai menulis <em>Supernova:Bintang Jatuh</em>, lalu berturut-turut <em>Akar</em> dan <em>Petir</em>. Sangat mengesankan, kelihatan sekali progress dan pencapaian dalam kematangannya dalam menulis.</p>
<p class="MsoNormal">Fenomena buku laris lain adalah pancalogi Gajahmada yang ditulis Langit Kresna Hariadi. Mungkin Langit hanya berniat menulis satu buku tentang Gajahmada, tetapi buku itu direspon begitu besar oleh pembaca sehingga dicetak ulang berkali-kali. Akhirnya Langit membuat sekuel yang hampir seluruhnya laris di pasaran. Setelah <em>Hamukti Palapa</em> di sekuel ketiga dan <em>Perang Bubat</em> di sekuel keempat, saya pikir ini adalah sekuel terakhir, karena klimaks kesalahan terbesar Gajahmada adalah perang bubat. Perang yang menewaskan Raja Pajajaran dan putrinya Dyah Pitaloka membuat orang-orang Sunda sampai saat ini sangat membenci Gajahmada. Tetapi ketika saya lihat di situs buku terakhir, Langit ternyata sudah membuat sekuel kelima berjudul <em>Madakaripura Hamukti Moksa.</em> Langit, yang awalnya “hanya” dikenal sebagai penulis skenario sandiwara radio di Solo, tampaknya menyeriusi profesi barunya sebagai penulis novel sejarah. Saya yakin, dia akan terus menulis buku-buku fiksi sejarah.</p>
<p class="MsoNormal">Atsmosfir penulisan novel ini menjadi luar biasa ketika ES Ito kemudian menerbitkan <em>Negara Kelima</em> dan terakhir <em>Rahasia Mede</em>. Novel ini membuat saya tercengang-cengang dan hampir tak percaya, ES Ito yang masih berusia 26 tahun melakukan riset selama dua tahun dengan wilayah yang nyaris tak terbatas.<span> </span>Saya bahagia sekali, di Indonesia para penulis kita sudah mampu mendudukkan novel sebagai karya fiksi yang menakjubkan. Mereka melakukan riset dengan sangat serius, berbulan-bulan mendata dan mengkompilasinya menjadi karya sastra yang memesona.</p>
<p class="MsoNormal">Akhirnya orang terperangah dengan munculnya Andrea Hirata, pria dari Belitung, yang menulis kenangannya dengan sangat manis ketika bersekolah di SD dan SMP Muhammadiyah. Judul novelnya pun membuat orang terangsang: <em>Laskar Pelangi.</em></p>
<p class="MsoNormal">Cerita yang sederhana tentang pengabdian seorang guru di sekolah yang hampir ambruk, menjadi pemikat utama.</p>
<p class="MsoNormal">Tak ada yang istimewa sebetulnya, tetapi Andrea mampu menggambarkan suasana sekolah itu dengan sangat manis: penuh humor, menggelikan sekaligus sinis dan kadang berlebihan. Tetapi pembaca kadung menjadi tersihir dan memberikan inspirasi penting dalam kehidupan pendidikan di Indonesia: jangan pernah menyerah bagaimanapun pahitnya hidup, bagaimanapun susahnya dengan apa yang dinamakan sekolah. Novel ini barangkali menjadi sebuah pertentangan tentang penting tidaknya institusi sekolah.</p>
<p class="MsoNormal">Buku ini dicetak ulang 24 kali dalam waktu kurang dari dua tahun dengan tiras mencapai 250.000 eksemplar, rekor penjualan buku di Indonesia. kabar terakhir, novel ini<span> </span>akan diterjemahkan ke Bahasa Hongaria. Tak heran bagi saya, karena korespondensi Andrea</p>
<p class="MsoNormal">sangat luas. Apalagi Andrea sendiri bersama komunitas anak-anak Belitung telah menyiapkan situs: <a href="http://www.begalor.com/">www.begalor.com</a> yang sampai saat ini terus di up-date para pencintanya.</p>
<p class="MsoNormal">Dan tentu saja, novel <em>Ayat-Ayat Cinta</em>-nya Habiburrahman el Sirazy. Sebagaimana <em>Gone with the Wind</em> karya Margareth Mitchel, novel ini kalah popular oleh film dan soundtrack lagunya yang merajai bioskop di nusantara dengan rekor penonton terbanyak sepanjang sejarah film.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.5in;text-indent:0.5in;">***</p>
<p class="MsoNormal">Bagi saya, fenomena buku-buku laris ini adalah oase di tengah hiruk pikuknya soal-soal politik dan ekonomi kita yang makin silang sengkarut. Bahwa ternyata, kita masih punya tempat berlari yang “benar”. Kalau kemudian para penulis itu menjadi popular dan kaya raya, itu juga merupakan hal baik. Bahwa menjadi penulis di Indonesia juga bisa kaya raya, sebagaimana JK Rowling yang hingga saat ini pundi-pundi uangnya tak kurang dari 4,5 juta pound. Jauh lebih kaya tinimbang Elizabeth II, Ratu Inggris tempat Rowling berdiam dan menjadi warganegaranya.</p>
<p class="MsoNormal">Dunia buku di Indonesia sesungguhnya tak bisa diprediksi, sebagaimana dunia hiburan. Orang-orang Indonesia menurut saya adalah orang-orang labil, setujukah Anda dengan pendapat saya?</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.5in;text-indent:0.5in;">***</p>
<p class="MsoNormal"><em><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Penulis adalah pencinta dan penulis buku</em></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bukusumeks.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bukusumeks.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukusumeks.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukusumeks.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukusumeks.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukusumeks.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukusumeks.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukusumeks.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukusumeks.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukusumeks.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukusumeks.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukusumeks.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukusumeks.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukusumeks.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukusumeks.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukusumeks.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=10&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/fenomena-buku-laris-unpredictable/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f5f8962012a58c9e9c0f5b23dd70f74?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">teje21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/buku.jpg?w=135&#38;h=180" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Misteri Pelepasan Timor-Timur</title>
		<link>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/misteri-pelepasan-timor-timur/</link>
		<comments>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/misteri-pelepasan-timor-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 16:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teje21</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukusumeks.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[[ Minggu, 24 Agustus 2008 ] Misteri Pelepasan Timor-Timur Judul Buku : Pembantaian Timor-Timur, Horor Masyarakat Internasional Pengarang : Joseph Nevins Penerbit : Galang Press, Jogjakarta Cetakan : I, Juli 2008 Tebal : xxiii + 375 Halaman Munculnya ide pelepasan Timor-Timur (Timtim) berawal dari dua opsi yang diajukan Presiden B.J. Habibi melalui referendum pada 27 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=8&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0 7.5pt 0.0001pt;">[ Minggu, 24 Agustus 2008 ]</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 7.5pt 0.0001pt;"><span style="color:#ff9900;">Misteri Pelepasan Timor-Timur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 7.5pt 0.0001pt;">Judul Buku : Pembantaian Timor-Timur, Horor Masyarakat Internasional Pengarang : Joseph Nevins</p>
<p>Penerbit : Galang Press, Jogjakarta</p>
<p>Cetakan : I, Juli 2008</p>
<p>Tebal : xxiii + 375 Halaman<img class="alignleft size-medium wp-image-149" src="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/buku-timur.jpg?w=201&#038;h=300&#038;h=300" alt="" width="201" height="300" /></p>
<p>Munculnya ide pelepasan Timor-Timur (Timtim) berawal dari dua opsi yang diajukan Presiden B.J. Habibi melalui referendum pada 27 Januari 1999. Opsi pertama memberi otonomi khusus kepada Timtim, dan kedua pemisahan Timtim dari Indonesia. Rakyat Timtim memilih opsi kedua, karena dinilai sebagai pilihan terbaik setelah mereka merasa disakiti selama 24 tahun oleh Indonesia.</p>
<p>Pada referendum 30 Agustus 1999, Timtim menyatakan merdeka dari Indonesia, hasil referendum diumumkan, dan rakyat Timtim lepas dari kuasa Indonesia. Begitu rakyat Timtim menyatakan keberaniaannya melepaskan diri dari belenggu Indonesia, kekerasan terjadi di mana-mana. Kelompok militer muncul di mana-mana, bikin onar, dan membantai orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan.</p>
<p>Pada masa itu, Timtim kembali ke ”titik nol”, kosong seperti tidak punya sejarah, nyawa manusia banyak tercincang layaknya ayam yang mau dipanggang. Baru tiga tahun kemudian, tepatnya pada 20 Mei 2002, Timtim resmi manjadi negara merdeka, dan mengubah namanya menjadi Timor Leste dengan bahasa resmi Portugal. Dengan meresmikan sebagai negara sendiri, kemerdekaannya diharapkan mampu memberi pencerahan baru terhadap masyarakat Timtim. Namun, kemerdekaan tidak semegah yang dibayangkan sewaktu mempertahankan dengan kucuran darah. Kemerdekaannya justru dirasakan oleh orang-orang di luar Timtim yang sengaja menyeting rakyat Timtim hidup dalam konflik.</p>
<p>Dengan status sebagai ”negara muda” yang stabilitas politik dan ekonominya masih sangat rentan konflik kepentingan, Timtim terombang-ambing menentukan arah masa depannya. Terlebih bila dikaitkan dengan tragedi masa lalu yang penuh darah dan pembantaian.</p>
<p>Buku ini mencoba memotret gejolak politik kepentingan yang terjadi sepanjang 1999 dan setelah Timtim menentukan hari kemerdekaannya. Kejahatan kemanusiaan yang pernah melenyapkan tanah Lorosae sampai saat ini masih bergentayangan dengan berbagai bentuk. Joseph Nevins, penulis buku ini, memaparkan secara gamblang kekacauan yang terjadi sebagai saksi dari insiden-insiden kekerasan pada 1999.</p>
<p>Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Timor-Timur yang dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) melaporkan adanya persekongkolan yang menjadi dasar bagi aksi kekerasan yang kemudian terjadi secara sistematis dan meluas. Antara lain adalah gelontaran dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) pemda dan alokasi anggaran rutin pembangunan daerah dan dana jaring pengaman sosial (JPS) untuk membiayai pembentukan dan perekrutan anggota pamswkasrsa. Bukan hanya itu, TNI terbukti juga memasok berbagai persenjataan kepada milisi. Mulai jenis SKS, N-16, Mauser/G-34, granat, pistol, termasuk sejumlah senapan rakitan (hlm. xx)</p>
<p>Dalam catatan Joseph, pada September 1999 TNI dan milisi melakukan sejumlah pembunuhan, pembakaran rumah-rumah, pengusiran secara paksa terhadap warga Timtim yang memilih untuk merdeka dalam referendum yang dilaksanakan PBB. Setelah seperempat abad dalam pendudukan Indonesia, sekitar 1.000 sampai 2.000 warga sipil Timtim terbunuh hanya dalam beberapa bulan sebelum dan beberapa hari sesudah referendum 1999. Sekitar 500.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan lari mengungsi.</p>
<p>Namun, kasus yang paling menonjol dan sampai saat ini masih memberi embrio terjadinya konflik baru, antara lain pembantaian di Gereja Liguica, pembunuhan warga Kailako di Bobonaro, penghadangan rombongan Manuel Gama, eksekusi penduduk sipir di Boronaro, dan penyerangan rumah Manuel Carrascalao. Juga kerusuhan di Dili, penyerangan diosis Dili, penyerangan rumah Uskup Belo, pembakaran rumah penduduk di Maliana, penyerangan kompleks gereja di Suai, dan pembunuhan di Polres Maliana. Termasuk pembunuhan wartawan Belanda Sander Thoenes serta pembunuhan rombongan rohaniawan di Lospalos (hlm. xxii)</p>
<p>Joseph merekam sendiri tindak kekejaman yang tidak manusiawi secara langsung di Timtim. Dia berada di tengah kekacauan dan amuk massa pada 1999 itu. Bagi dia, semua tragedi menjadi sebuah pertanyaan dan gugatan reflektif ihwal carut-marut kemanusiaan yang terus terjadi di berbagai belahan dunia.</p>
<p>Bagi Joseph, buku ini menjadi sebuah media kritik dan evaluasi di tengah berbagai tragedi mengenaskan dunia yang terus terjadi tanpa henti. Penulis sadar bahwa tragedi yang terjadi di Timtim tidak bisa dipotret seutuhnya, secara sempurna, tetapi dia melihat bahwa tragedi itu harus disuarakan, agar menjadi keprihatian masyarakat dunia.</p>
<p>Di tengah maraknya tindak kekerasan, buku ini menjadi bahan renungan tersendiri bagi Indonesia. Meski Timtim sudah tidak lagi menjadi bagian dari Indonesia, sejarah tidak akan pernah melupakan bahwa Indonesia pernah mengobrak-abrik rakyat Timor-Timur.</p>
<p>Buku ini mungkin akan memerahkan telinga para petinggi TNI dan Polri, karena banyak informasi yang menelanjangi sepak-terjang tentara dan polisi selama bertugas di sana. Kejahatan kemanusiaan adalah derita bagi semua orang, dan semua orang bisa merasakan perihnya. (*)</p>
<p><strong><em>*) Ainur Rasyid</em></strong>, A<em>lumnus PP. Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bukusumeks.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bukusumeks.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukusumeks.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukusumeks.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukusumeks.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukusumeks.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukusumeks.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukusumeks.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukusumeks.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukusumeks.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukusumeks.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukusumeks.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukusumeks.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukusumeks.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukusumeks.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukusumeks.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=8&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/misteri-pelepasan-timor-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f5f8962012a58c9e9c0f5b23dd70f74?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">teje21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/buku-timur.jpg?w=201&#38;h=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penjaga Ingatan Melawan Lupa</title>
		<link>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/penjaga-ingatan-melawan-lupa/</link>
		<comments>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/penjaga-ingatan-melawan-lupa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 16:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teje21</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukusumeks.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Penjaga Ingatan Melawan Lupa Oleh Diana A.V. Sasa* ’ ’ Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.’’ Kalimat lugas itu diucapkan tokoh Mirek dalam novel kontroversial The Book of Laughter and Forgetting yang ditulis Milan Kundera, seorang novelis, buruh, dan musisi jazz asal Ceko. Kundera juga menulis, pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=6&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="font-size:12pt;"><span style="color:#800000;"><strong>Penjaga Ingatan Melawan Lupa</strong></span></span></h1>
<h3><span style="font-size:12pt;">Oleh Diana A.V. Sasa*</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/cover-buku-gus2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-177" src="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/cover-buku-gus2.jpg?w=188&#038;h=300&#038;h=300" alt="" width="188" height="300" /></a><em><span style="font-size:12pt;">’</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:12pt;">’</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.’’</em><span style="font-size:12pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalimat lugas itu diucapkan tokoh Mirek dalam novel kontroversial <em>The Book of Laughter and Forgetting</em> yang ditulis Milan Kundera, seorang novelis, buruh, dan musisi jazz asal Ceko. Kundera juga menulis, pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat menutupi kenangan akan invasi Rusia atas Ceko, pembunuhan Allende mengurangi rintihan Bangladesh, perang di Padang Pasir Sinai membuat orang melupakan Allende, pembantaian bangsa Kamboja membuat orang melupakan Sinai, dan seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya setiap orang membiarkan segala sesuatunya terlupakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Peristiwa yang datang sambit-menyambit di negeri kita menjadi arena bagaimana pelupaan itu terjadi. Kenaikan BBM yang menyulut demonstrasi di mana-mana mendadak surut karena kasus FPI beringas di Monas. Peristiwa suap anggota DPR dan pejabat Bank Indonesia menenggelamkan soal kekerasan atas nama agama itu. Hiruk-pikuk pemberitaan soal pembunuhan berantai di Jombang membuat orang perlahan-lahan melupakan kasus suap itu. Sementara, kasus bencana lumpur Lapindo kian hari kian abstrak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Demikianlah, seheboh apa pun peristiwa, akan segera terlupakan oleh peristiwa lain yang lebih baru dan lebih gigantik. Bagi para pemegang kuasa, teori lupa akan menjadi senjata paling ampuh untuk mengalihkan perhatian publik, sepenting dan seserius apa pun persoalannya. Mereka bukan saja memanfaatkan naluri hasrat ingin tahu yang ada pada setiap orang, tetapi juga memanfaatkan kelemahan dasar manusia, yakni cepat melupakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan cara melawan amnesia akut yang dimanfaatkan mesin kekuasaan politik dan ekonomi itu adalah dengan belajar kepada para penulis dan begawan. Di setiap bangsa, di tiap-tiap kota, kelompok asketis inilah yang menjadi tumpuan terakhir masyarakat untuk tetap waras dan waskita atas serbuan alienasi yang datang berlimpah-limpah. Beruntunglah di Surabaya dengan hutan pabrik dan mall-nya yang aduhai, masih memiliki beberapa benteng terakhir kebudayaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kita menyebut tiga begawan buku yang terus berupaya melawan lupa; mereka inilah laskar-laskar terakhir yang menjadi penjaga-penjaga ingatan dengan caranya sendiri-sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adalah Oei Hiem Hwie, 76, mencoba merekam setiap detail peristiwa hari demi hari dengan cara mengkliping dan mengoleksi semua produk teks (koran, majalah, buku, brosur) yang datang dari mana pun. Perpustakaan yang dikelolanya, Medayu Agung, adalah monumen ingatan yang barangkali tak dimiliki oleh perpustakaan mana pun di kota ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Laku sebagai kolektor teks dan pengkliping yang dirintis Pak Oei datang dari tradisi muda saat menjadi wartawan di harian <em>Terompet Masjarakat</em>. Hobi itu akhirnya terhenti saat gempa politik G 30 S meletus dan ia dijebloskan ke Pulau Buru karena kedudukannya sebagai sekretaris Badan Persaudaraan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) yang dinilai berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku-bukunya dirampas dan dibakar. Hanya beberapa saja yang selamat karena berhasil disembunyikan di atas plafon, di gudang, dan di tempat-tempat tak terduga lainnya. Itu pertama kali Pak Oei memperjuangkan sendiri warisan ingatannya dari vandalisme. Sisa-sisa itulah yang jadi cikal berdirinya Perpustakaan Medayu Agung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pak Oei adalah sosok pencinta buku. Baginya, buku adalah artefak ingatan. Kecintaannya terhadap artefak itu tiada lain adalah usahanya merawat ingatan agar generasi muda Indonesia tak terus-menerus dibodohi penguasa. Dan Pak Oei sadar betul bahwa apa yang ada di kepalanya bisa sewaktu-waktu hilang ketika kelak usianya pungkas. Maka, dikumpulkannya buku-buku dan kliping koran sebagai bagian dari upaya kodefikasi penuturan sejarah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tak jauh dari kediaman Pak Oei, ada begawan sastra yang dengan tekun menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia sekaligus. Suparto Brata, 76, adalah sosok yang enerjik, penuh semangat. Cintanya tak pernah susut pada buku. Padahal, apa yang ditulisnya jarang mendapat apresiasi yang layak, baik dari publik maupun pemerintah. Baru ketika ia mendapat anugerah penulis Asia Tenggara Terbaik 2007 dari Kerajaan Thailand, pemerintah mulai melirik. Ironis memang, justru bangsa lain yang menghargai usahanya merawat tradisi Jawa dan Indonesia. Inilah wajah bangsa kita yang kerap abai atas kekayaan tradisi yang dipunyai dan baru kebakaran jenggot ketika milik kita itu dicuri bangsa lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Suparto Brata bercita-cita ingin menduniakan satra Jawa dan menciptakan perdamaian dunia melalui karya-karya novelnya. Maka, tak bosan-bosan ia menulis dengan disiplin laiknya seorang laskar budaya terakhir. Mbah Parto hingga kini memiliki jadwal menulis teratur mulai pukul 04.00 subuh hingga 09.00. Rutin setiap hari. Dengan disiplin itu ia telah menghasilkan 130 buku hingga kini. Walau sudah uzur, Mbah Parto juga tak gaptek-gaptek amat. Sosok yang rendah hati ini juga menjajal tradisi anak-anak muda sekarang dengan <em>ngeblog</em>. Tak tanggung-tanggung, Par Parto mempunyai dua blog sekaligus: <span style="color:black;"><a href="http://www.supartobrata.com/"><span style="color:black;text-decoration:none;">www.supartobrata.com</span></a></span> dan www.supartobrata.blogspot.com.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seorang lagi begawan penjaga ingatan di Surabaya yang patut dicatat adalah Budi Darma. Sastrawan, akademisi, peraih Sea Write Award, Anugerah Akademi Jakarta, dan Anugerah Ahmad Bakrie ini juga tak pernah berhenti keliling dunia. Posisinya sebagai guru besar dan salah satu sosok penting di lembaga kebudayaan <span style="color:black;">MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) membawanya pada sebuah kerja mulia: membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari Brunei Darussalam, Malaysia, dan Indonesia. Kiprahnya ini menjadikannya sebagai sosok penyemai lahirnya generasi yang sadar literasi. Ia adalah begawan penjaga berlangsungnya kontinuitas tradisi literer di Surabaya khususnya dan di Indonesia umumnya.</span></p>
<p>Surabaya beruntung masih mempunyai benteng terakhir asketisme seperti tiga sosok itu. Mereka inilah –dan juga nama-nama anonim lain yang tersebar di kamar-kamar senyap– yang akan menjadi penjaga ingatan akan laku perjalanan kota ini hingga warganya tak akan alpa dari mana berasal dan ke mana akan kembali. (Diana A.V. Sasa)</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bukusumeks.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bukusumeks.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukusumeks.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukusumeks.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukusumeks.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukusumeks.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukusumeks.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukusumeks.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukusumeks.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukusumeks.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukusumeks.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukusumeks.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukusumeks.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukusumeks.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukusumeks.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukusumeks.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=6&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/penjaga-ingatan-melawan-lupa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f5f8962012a58c9e9c0f5b23dd70f74?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">teje21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teje21.files.wordpress.com/2008/08/cover-buku-gus2.jpg?w=188&#38;h=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Memupuk Nasionalisme Anak Bangsa</title>
		<link>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/memupuk-nasionalisme-anak-bangsa/</link>
		<comments>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/memupuk-nasionalisme-anak-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 16:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teje21</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukusumeks.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Memupuk Nasionalisme Anak Bangsa Judul Buku: Kesadaran Nasional, dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (Jilid I dan II) Penulis: Prof Dr Slamet Muljana Penerbit: LKiS, Jogjakarta Cetakan: I, Mei 2008 Tebal: Jilid I 357 Halaman, Jilid II 285 Halaman Lewat sudah gempita peringatan satu abad kebangkitan nasional dan kini diganti peringatan hari kemerdekaan ke-63 RI. Keduanya seolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=4&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;">Memupuk Nasionalisme Anak Bangsa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-indent:-0.5in;"><strong><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Judul </span></strong><strong><span style="font-size:12pt;">Buku</span></strong><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">: </span></strong><strong><em><span style="font-size:12pt;"></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Kesadaran Nasional, dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (Jilid I dan II)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Penulis: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Prof Dr Slamet Muljana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Penerbit: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">LKiS, Jogjakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Cetakan: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:12pt;">I</span><span style="font-size:12pt;" lang="IN">, Mei 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Tebal: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:12pt;">Jilid I 357</span><span style="font-size:12pt;" lang="IN"> Halaman, Jilid II 285 Halaman</span><span style="font-size:12pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Lewat sudah gempita peringatan satu abad kebangkitan nasional dan kini diganti peringatan hari kemerdekaan ke-63 RI. Keduanya seolah tak terkait, padahal sejarah membuktikan bahwa kebangkitan nasional merupakan bibit kemerdekaan. Bibit tersebut tampak ketika Bung Karno dan Bung Hatta beserta Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) lainnya begadang menyusun dan mempersiapkan naskah proklamasi kemerdekaan, di mana mereka mengacu pada Budi Utomo (20 Mei 1908) dan Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) guna menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa ini memiliki martabat dan harkat untuk merdeka. Hasilnya, Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan merdeka pun diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Naskah proklamasi kemerdekaan itu berisi dua kalimat saja. Kalimat pertama merupakan buah pemikiran Bung Hatta: ’’Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.’’ Kalimat itu dimaksudkan sebagai deklarasi, pernyataan tegas, dan maknanya tunggal. Kalimat itu bertalian erat dengan kalimat pertama naskah mukadimah konstitusi yang sudah dirancang dua bulan sebelumnya: ’’Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan, oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.’’ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Kalimat kedua, ’’Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll. diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,’’ dirumuskan sendiri oleh Bung Karno.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Mengacu pada paparan di atas, di tengah krisis yang kita hadapi, masih relevankah kita memperingati proklamasi kemerdekaan? Pertanyaan ini sengaja diajukan (tanpa sebuah jawaban) agar kita lebih serius merefleksikan bahwa, bisakah kita merasakan makna kemerdekaan tanpa sebuah peringatan. Di sini kita bisa menyimak pernyataan Slamet Muljana, penulis buku dua jilid ini, yang berbicara tentang fungsi pengawetan peristiwa bersejarah, bahwa makna diperingatinya sebuah peristiwa menunjukkan kita masih tetap sama seperti dulu dan akan tetap seperti itu pada masa mendatang (hlm. 27).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Dari pernyataan Muljana tersebut, menjadi jelas bahwa tidak ada yang salah dalam peringatan dengan segala seremoni dan ritualnya. Sebagai elemen budaya, seremoni dan ritual dibutuhkan untuk mendukung sisi emosional dari sebuah peristiwa. Dampak yang diharapkan dari peringatan itu adalah lahirnya sikap optimistis guna memupuk nasionalisme anak bangsa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Oleh karena itu, kehadiran buku dua jilid ini menemukan momentumnya dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-63. Kedua buku yang masing-masingnya terbagi dalam 10 bab ini merekam dan memaparkan secara sistematis sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia, sejak masa awal kebangkitan nasional yang berkilau membutakan hingga perbedaan pendapat di sekitar proklamasi kemerdekaan, sekaligus memperterang pengertian nasionalisme yang redup oleh informasi yang sebelumnya kurang memadai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Suatu rekaman sejarah dipandang perlu tidak hanya dalam rangka mengetahui tentang masa lalu, tapi juga usaha dalam memberikan perspektif dan ingatan kolektif bangsa tentang apa dan bagaimana seharusnya nasionalisme itu diberi konteks kekinian. Bagi Indonesia yang saat ini sedang berada dalam efek domino krisis multidimensi, barangkali pemahaman dan penggalian terhadap sejarah bangsa menemukan titik momentumnya untuk tidak sekadar dihargai sebagai medium refleksi semata, tapi juga disadari sebagai semangat perjuangan kebangsaan yang akan terus berlanjut hingga kapan pun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Di sinilah arti penting memaknai nasionalisme dalam konteks sejarah. Dengan kata lain, nasionalisme tidak hanya diartikan sebagai antitesis dari kolonialisme, tapi juga konseptualisasi dari kesadaran nasional yang butuh pemaknaan secara terus-menerus. Jadi, menurut Muljana, memahami nasionalisme terletak pada aspek bagaimana sejarah menjadi media pembelajaran terhadap generasi bangsa dalam menjunjung tinggi nilai kesatuan dan persatuan demi tujuan dan cita-cita bangsa (hlm. 81).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Hal ini sejalan dengan beberapa teoretisi lain yang berpendapat bahwa bangsa pada mulanya bukanlah suatu pengertian politis. Sebab, bangsa dapat terbentuk berdasarkan kesamaan nasib sebagaimana dikatakan Otto Bauer, atau kesamaan imajinasi sebagaimana dikatakan Ben Anderson. Misalnya, orang dapat hidup sebagai bangsa karena kesamaan bahasa, daerah, asal-usul, atau kesamaan mitos yang mereka hayati bersama. Munculnya nasionalisme mengubah bangsa (<em>nation</em>) sebagai satuan yang prapolitis menjadi suatu unit politik. Dalam nasionalisme dihidupkan kesadaran sekelompok orang untuk menentukan nasibnya sendiri berdasarkan kehendak politik yang sadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Untuk memakai model Yunani Antik, dapat dikatakan bahwa bangsa yang tadinya masih merupakan suatu <em>oikos </em>semata, yaitu suatu rumah tangga yang menempati ruang privat, oleh nasionalisme diubah menjadi <em>polis</em>, yaitu suatu ruang publik, dan bahkan ruang politik. Bangsa dalam pengertian politik inilah yang kemudian digalakkan sosialisasinya oleh para pemikir dan pejuang kemerdekaan kita. Bung Karno, misalnya, dengan amat mahir menjadikan nasionalisme sebagai sarana untuk <em>nation-building</em>. Segala perbedaan menyangkut kebudayaan, etnisitas, kesukuan, agama dan daerah, menjadi sekunder dan tampaknya harus dikorbankan untuk apa yang dinamakan Bung Karno, ’’penyatupaduan semua kekuatan dan tenaga revolusioner.’’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Dalam retorika seperti itu, kemerdekaan, bangsa, nasionalisme, dan persatuan seakan-akan menjadi sinonim dalam maknanya. Karena itu, kehadiran dua buku ini selayaknya ditempatkan pada konteks pemupukan nasionalisme atau pengabdian kepada nusa dan bangsa, sikap yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan, dan penguatan mentalitas anak bangsa di tengah persoalan yang mengimpit bangsa dewasa ini. Itulah sebabnya Muljana menawarkan nasionalisme atau kesadaran nasional menjadi pendidikan pokok dalam sejarah Indonesia yang bukan untuk dihafalkan, melainkan dihayati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;">Akhirnya, membaca dua buku ini menyadarkan kita bahwa nasionalisme bukanlah sebuah tonggak, melainkan suatu proses yang terus berlangsung. (*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;">*) Tasyriq Hifzillah </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;">Peminat sejarah asal Probolinggo, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bukusumeks.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bukusumeks.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukusumeks.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukusumeks.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukusumeks.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukusumeks.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukusumeks.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukusumeks.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukusumeks.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukusumeks.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukusumeks.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukusumeks.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukusumeks.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukusumeks.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukusumeks.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukusumeks.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=4&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/09/memupuk-nasionalisme-anak-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f5f8962012a58c9e9c0f5b23dd70f74?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">teje21</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/06/hello-world/</link>
		<comments>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/06/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 18:32:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teje21</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=1&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bukusumeks.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bukusumeks.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukusumeks.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukusumeks.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukusumeks.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukusumeks.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukusumeks.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukusumeks.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukusumeks.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukusumeks.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukusumeks.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukusumeks.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukusumeks.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukusumeks.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukusumeks.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukusumeks.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukusumeks.wordpress.com&amp;blog=4753147&amp;post=1&amp;subd=bukusumeks&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukusumeks.wordpress.com/2008/09/06/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f5f8962012a58c9e9c0f5b23dd70f74?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">teje21</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
