Fenomena Buku Laris: Unpredictable
Oleh: Nurhayat Arif Permana
Fenomena munculnya buku-buku best seller selalu memberikan dampak, baik secara langsung maupun tidak. Dalam perjalanan peradaban sebuah bangsa, beberapa buku fiksi semisal novel akan berpengaruh sangat kuat terhadap perkembangan sosial budaya dan bahkan politik. Kita tentu masih ingat bagaimana seorang Boris Pasternak harus dikejar-kejar rejim pemerintahan Presiden Sovyet Kruschev hingga akhir hidupnya, karena novelnya Dr. Zivago habis-habisan mengecam kelakuan rejim. Penerima nobel sastra ini akhirnya tak bisa kembali ke negaranya.
——————————————–
Kita juga akhirnya paham mengapa novel-novel Pramudya Ananta Toer juga akhirnya dibredrel rejim orde baru karena dianggap “menghina dan merongrong kekuasaan”. Padahal sampai saat ini tak satu pun dari novel-novel itu yang bercerita tentang sebuah pemerintahan yang bobrok. Pram yang dianggap penganut liberalisme sosialis toh pada akhirnya mengatakan bahwa dia sekadar menceritakan peristiwa sejarah sebuah bangsa bernama Indonesia.
Hakikatnya sebuah buku ditulis memang bertujuan untuk memberikan kesaksian hingga memberikan inspirasi banyak orang bagaimana menyikapi sebuah persoalan. Bahkan sebuah buku tentang masakan (kuliner) atau ramalan akan menjadi perbincangan banyak orang. Bondan Winarno, yang dulu beberapa kali memenangkan lomba penulisan cerita pendek dan juga telah dibukukan, akhirnya menempuh membuat milis jalan sutera dan menjadi fenomenal setelah dia menjadi presenter acara kuliner di televisi.
Kita sering tak dapat menduga kapan suatu hal bisa menjadi trend setter, apalagi di Indonesia yang tingkat membaca masyarakatnya sangat minus. Sewaktu JK Rowling menuliskan tokoh Harry Potter, tak seorang pun dapat mengira bahwa buku tentang seorang anak yang bersekolah sihir dapat menyihir jutaan anak di dunia menjadi tergila-gila dengan sang tokoh. Kalau kemudian buku itu ditulis sampai lebih dari lima sekuel, hal itu semata-mata “permintaan” pasar pembaca. Dan Anda tahu sendiri efeknya, Rowling menjadi manusia terkaya di dunia.
Tak seorang pun sebenarnya mampu menganalisa dan menerawang kemauan pasar, termasuk pasar buku. Jika Harry Potter ternyata mampu menembus jutaan copy, bagi Rowling itu semata blessing in disguise, karena Tuhan telah memberikan kebaikanNya karena kecintaan dan bakti Rowling yang amat besar kepada putrinya.
Dan tak kalah dashyatnya pula apa yang ditulis Dan Brown, Da Vinci Code. Novel yang mengungkap misteri seniman jenius serbabisa, Leonardo da Vinci ini benar-benar mengguncang dunia. Dan Brown, yang sebelumnya telah menulis Devil and Angel disusul Digital Fortress, tiba-tiba menjadi penulis moncer yang dianggap jenius. Padahal jika dilihat dari gagasan dan isi bukunya, Brown hanya mengalihpindahkan buku serupa yang ditulis Michael Baigent, Richard Leigh dan Henry Lincoln Holy Blood, Holy Grail. Karena buku Brown ini, serbuan buku sejenis memenuhi rak-rak toko buku dengan kualitas yang payah. Saya termasuk orang yang menyumpah-nyumpah ketika membaca Michaelangelo’s Secret karangan Paul Christopher. Betapa tidak, tadinya saya berharap buku itu akan mengungkap sisi kelam pematung terbesar abad pertengahan itu—yang hidup semasa dan berseteru dengan Michaelangelo di Florence, Perancis–ternyata saya terkecoh. Buku itu—maaf—bagi saya adalah sampah. Padahal menurut saya banyak hal dalam hidup Michaelangelo yang belum terungkap, termasuk mengapa akhirnya dia membuat Pieta, karya patungnya yang menurut saya telah mencapai seni patung tertinggi dalam sejarah perpatungan di dunia (tanpa mengenyangpingkan The Thinkernya Auguste Rodin). Cerita buku berjudul asli Michelangelo’s Notebook ini sebetulnya menarik. Paul Christopher mencoba menghadirkan kisah menegangkan tentang konspirasi mematikan yang terkait dengan Nazi, Vatikan, dan rahasia Michelangelo. Banyak pujian diberikan kepada Paul Christopher tentang buku ini, tetapi entah mengapa—kemungkinan soal terjemahan—saya benar-benar menjadi tak bergairah.
Buku-buku laris semacam ini punya banyak sisi pandang, tergantung bagaimana pembaca mulai menilainya. Judul-judul buku yang saya sebutkan di atas—dan masih ada ratusan—kebanyakan buku bergenre thriller. Bagi para pencinta fiksi, kegilaan terhadap Agatha Christie misalnya, kadangkala tak masuk akal. Sekadar informasi, di salah satu situs penjualan buku, saat ini sedikitnya ada 120 buku berjenis thriller yang laris manis.
Pemain di bisnis buku menangkap peluang besar di sini. Penerbit, khususnya, kini bertaburan. Apalagi dengan perkembangan desain grafis saat ini, pembaca disuguhkan oleh hal yang ajaib. Bahwa buku, dengan harga yang makin melambung, ternyata tak hanya dinilai dari konten saja. Makanya ungkapan ril tentang don’t judge the book by it’s cover di dalam bisnis perbukuan tidak berlaku.
Apalagi dengan teknologi informasi yang semakin semarak dan menyempurna. Bagi toko buku yang punya display terbatas, telah diberikan alternatif dengan hadirnya situs-situs penjualan buku. Situs yang termasuk popular misalnya: www.inibuku.com, www.bukukita.com, atau www.bukularis.com. Anda tinggal pesan via rekening atau kartu kredit, seminggu kemudian buku tersebut sudah ada di rumah Anda. Saya termasuk salah seorang yang sering memanfaatkan jasa ini.
***
Bagaimana di Indonesia saat ini? Saya menilai, banyak novel-novel bagus yang memenuhi pasar dan menjadi fenomenal. Ayu Utami telah memulai sesuatu yang bagus ketika menulis Saman, sebagai satu dari trilogi Laila tak Mampir di New York. Buku itu dipuja-puji di sana sini, Ayu dianggap penulis berbakat besar. Tetapi ketika sekuel keduanya, Larung terbit, kelihatan Ayu kedodoran. Sampai saat ini Ayu tak jua memenuhi janjinya untuk menulis sekuel ketiga karena Larung ternyata tak memenuhi harapan pembaca. Fenomena penulis perempuan akhirnya dilanjutkan Dewi Lestari yang memulai menulis Supernova:Bintang Jatuh, lalu berturut-turut Akar dan Petir. Sangat mengesankan, kelihatan sekali progress dan pencapaian dalam kematangannya dalam menulis.
Fenomena buku laris lain adalah pancalogi Gajahmada yang ditulis Langit Kresna Hariadi. Mungkin Langit hanya berniat menulis satu buku tentang Gajahmada, tetapi buku itu direspon begitu besar oleh pembaca sehingga dicetak ulang berkali-kali. Akhirnya Langit membuat sekuel yang hampir seluruhnya laris di pasaran. Setelah Hamukti Palapa di sekuel ketiga dan Perang Bubat di sekuel keempat, saya pikir ini adalah sekuel terakhir, karena klimaks kesalahan terbesar Gajahmada adalah perang bubat. Perang yang menewaskan Raja Pajajaran dan putrinya Dyah Pitaloka membuat orang-orang Sunda sampai saat ini sangat membenci Gajahmada. Tetapi ketika saya lihat di situs buku terakhir, Langit ternyata sudah membuat sekuel kelima berjudul Madakaripura Hamukti Moksa. Langit, yang awalnya “hanya” dikenal sebagai penulis skenario sandiwara radio di Solo, tampaknya menyeriusi profesi barunya sebagai penulis novel sejarah. Saya yakin, dia akan terus menulis buku-buku fiksi sejarah.
Atsmosfir penulisan novel ini menjadi luar biasa ketika ES Ito kemudian menerbitkan Negara Kelima dan terakhir Rahasia Mede. Novel ini membuat saya tercengang-cengang dan hampir tak percaya, ES Ito yang masih berusia 26 tahun melakukan riset selama dua tahun dengan wilayah yang nyaris tak terbatas. Saya bahagia sekali, di Indonesia para penulis kita sudah mampu mendudukkan novel sebagai karya fiksi yang menakjubkan. Mereka melakukan riset dengan sangat serius, berbulan-bulan mendata dan mengkompilasinya menjadi karya sastra yang memesona.
Akhirnya orang terperangah dengan munculnya Andrea Hirata, pria dari Belitung, yang menulis kenangannya dengan sangat manis ketika bersekolah di SD dan SMP Muhammadiyah. Judul novelnya pun membuat orang terangsang: Laskar Pelangi.
Cerita yang sederhana tentang pengabdian seorang guru di sekolah yang hampir ambruk, menjadi pemikat utama.
Tak ada yang istimewa sebetulnya, tetapi Andrea mampu menggambarkan suasana sekolah itu dengan sangat manis: penuh humor, menggelikan sekaligus sinis dan kadang berlebihan. Tetapi pembaca kadung menjadi tersihir dan memberikan inspirasi penting dalam kehidupan pendidikan di Indonesia: jangan pernah menyerah bagaimanapun pahitnya hidup, bagaimanapun susahnya dengan apa yang dinamakan sekolah. Novel ini barangkali menjadi sebuah pertentangan tentang penting tidaknya institusi sekolah.
Buku ini dicetak ulang 24 kali dalam waktu kurang dari dua tahun dengan tiras mencapai 250.000 eksemplar, rekor penjualan buku di Indonesia. kabar terakhir, novel ini akan diterjemahkan ke Bahasa Hongaria. Tak heran bagi saya, karena korespondensi Andrea
sangat luas. Apalagi Andrea sendiri bersama komunitas anak-anak Belitung telah menyiapkan situs: www.begalor.com yang sampai saat ini terus di up-date para pencintanya.
Dan tentu saja, novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman el Sirazy. Sebagaimana Gone with the Wind karya Margareth Mitchel, novel ini kalah popular oleh film dan soundtrack lagunya yang merajai bioskop di nusantara dengan rekor penonton terbanyak sepanjang sejarah film.
***
Bagi saya, fenomena buku-buku laris ini adalah oase di tengah hiruk pikuknya soal-soal politik dan ekonomi kita yang makin silang sengkarut. Bahwa ternyata, kita masih punya tempat berlari yang “benar”. Kalau kemudian para penulis itu menjadi popular dan kaya raya, itu juga merupakan hal baik. Bahwa menjadi penulis di Indonesia juga bisa kaya raya, sebagaimana JK Rowling yang hingga saat ini pundi-pundi uangnya tak kurang dari 4,5 juta pound. Jauh lebih kaya tinimbang Elizabeth II, Ratu Inggris tempat Rowling berdiam dan menjadi warganegaranya.
Dunia buku di Indonesia sesungguhnya tak bisa diprediksi, sebagaimana dunia hiburan. Orang-orang Indonesia menurut saya adalah orang-orang labil, setujukah Anda dengan pendapat saya?
***
Penulis adalah pencinta dan penulis buku
